Setelah ikut ‘tenggelam’ dalam emosi dan euphoria kemenangan Barack Obama beberapa waktu lalu, akhirnya saya kembali mengikuti percaturan politik di tanah air yang saya sangat cintai ini. Tidak sepenuhnya mengobservasi memang, karena jujur saja saya masih sedikit skeptis dengan kondisi politik khususnya yang berkaitan dengan Pilpres 2009. Di satu sisi, saya merasa ada stagnansi dengan munculnya calon yang itu-itu lagi, apalagi mereka yang sudah pernah terbukti ’gagal’ memimpin Indonesia (tanpa bermaksud menyepelekan jasa mereka, saya masih sangat menghormati kontribusi mereka, setinggi-tingginya). Saya hanya berharap, wajah-wajah lama yang dengan yakin mencalonkan dirinya kembali telah benar-benar sadar mengenai esensi politik sebagai seni untuk membangun dan menciptakan kesejahteraan suatu bangsa, bukan sekedar arena permainan untuk berebut kekuasaan dan membagi kepentingan dengan golongan-golongan tertentu. Semoga. Amiin. Saya benar-benar berdoa untuk ini.
Di sisi lain, ada semacam atmosfer baru dengan munculnya wajah-wajah baru dan ’muda’ yang secara mengejutkan muncul ke permukaan dan menyatakan siap menjadi pemimpin bangsa sebagai presiden. Jujur, saya—dan mungkin sebagian orang—merasa agak aneh dengan keadaan ini. Entah karena sudah terbiasa dengan kondisi politik Indonesia yang monoton dan jarang ada progres, karena menganggap calon-calon fresh itu hanya sebagai imbas dari ’Obama-effect’, karena terlalu pesimis, atau karena alasan lain. Entahlah. Saya juga tak berusaha mencari tahu darimana perasaan ini berasal. Yang jelas suasana ’baru’ ini belum membuat saya benar-benar yakin. Justru malah menjadikan saya bertanya-tanya, ”Kenapa sih baru sekarang orang-orang baru tiba-tiba muncul?” Yah, saya tahu pertanyaan saya itu tidak sepenuhnya relevan. Lebih baik terjadi sekarang daripada besok dan entah kapan lagi bukan? Yang jelas, munculnya wajah baru melalui iklan membuat saya sedikit muak karena seakan-akan mereka hanya adu popularitas (sebagai imbas dari adanya tren menjadikan selebritis sebagai caleg, cagub, atau calon bupati. Dari selebritis yang tampak kritis sampai selebritis yang cuma asal tenar). Hmm, setidaknya kita memiliki makin banyak pilihan bukan? Bukti demokrasi yang sedang tumbuh.
Namun, beberapa hari yang lalu keyakinan saya mulai bertambah sedikit demi sedikit bahwa Indonesia juga akan memiliki semangat baru (dari wajah baru atau sekalipun dari wajah lama). Dan yang membuat saya heran, keyakinan ini bertambah setelah saya menjelajah Youtube dan Facebook di internet.
Begini ceritanya.
Beberapa waktu lalu saya menonton dengan perasaan ikut terhanyut (yah, terkadang saya memang sentimental, khususnya bila melihat sesuatu yang berhubungan dengan perjuangan minoritas atau kemanusiaan) melihat pidato kemenangan Obama dan sambutan pendukungnya di Grant Park melalui Youtube, kekaguman itu terus ada di benak saya terlebih saat saya menonton pidato pengakuan kekalahan yang sangat berkelas oleh John McCain. Salut.
Namun, perasaan kagum itu ’rusak’ dan berganti ’malu’ saat hari berikutnya saya membaca di koran tentang aksi tuduh menuduh adanya kecurangan lawan dalam pemilihan cagup-cawagup Jawa Timur antara Pakde Karwo dan Khofifah karena masalah perhitungan suara yang selisihnya tipis dan di bawah standar error quick count. Kejadian ini juga mengingatkan saya dengan peristiwa serupa dan lebih parah karena melibatkan tindakan anarkis di provinsi lain sebelumnya. Apakah mental untuk menyadari posisi diri dan berjiwa besar memang tidak dimiliki para pejabat? Apakah para pejabat sebenarnya adalah kumpulan orang-orang yang tidak pantas memikul tugas berat dan mulia sebagai wakil rakyat? Kita sudah kecewa dan akhirnya lelah dengan pemikiran itu.
Untungnya, saat saya membuka account Facebook saya, saya mendapat ’pencerahan’. Saya tidak menyangka bahwa sedikit pencerahan ini justru datang dari orang yang sebelumnya tidak saya percayai. Tanpa bermaksud berkampanye atau mempromosikan seorang calon, saya kagum terhadap Rizal Mallarangeng, yang dengan diksi yang mengesankan bagi saya, mengumumkan pengunduran dirinya dari Pilpres 2009 melalui Facebook notes. Berikut saya copy langsung dari Facebook;
Farewell, My Friends
Yesterday at 5:56pm
Oleh: Rizal Mallarangeng
Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa.
Sejak Juli kemarin saya telah menerapkan serangkaian metode kampanye untuk menggugah dan mencari dukungan masyarakat akan perlunya kandidat presiden dari generasi baru. Saya sudah mencoba meyakinkan publik bahwa anak-anak muda juga pantas untuk dipertimbangkan sebagai calon-calon pemimpin pada Pemilu 2009.
Saya melakukannya dengan berbagai cara, dengan iklan di televisi nasional, dalam berbagai acara dialog di radio, tv, koran dan majalah, dalam pertemuan serta keterlibatan di berbagai forum diskusi di banyak penjuru tanah air, dengan penerbitan buku, serta dengan Facebook, Youtube, dan berbagai forum di Internet.
Sejauh ini saya cukup senang bahwa dalam beberapa pembicaraan di tingkat nasional, isu tentang generasi muda dan alternatif kepemimpinan sudah menjadi bagian dari pembicaraan publik. Bahkan, setelah saya mulai awal Juli lalu, beberapa kandidat dari generasi muda, seperti Fadjroel Rahman dan Yuddy Chrisnadi, juga kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemimpin alternatif untuk Pemilu 2009. Kepada mereka berdua, saya ingin memberi salut dan penghargaan yang sebesar-besarnya. Dan saya tahu bahwa sebenarnya selain mereka berdua ada banyak anak muda di dalam dan di luar partai yang sanggup dan pantas dipertimbangkan untuk mulai memegang peranan penting di negeri yang kita cintai ini.
Selain itu, dalam banyak perjalanan saya bertemu dengan begitu banyak pihak di berbagai daerah, saya kadang terkesima dan terharu dengan sambutan dan harapan yang disampaikan kepada saya. Beberapa kali saya sempat termenung. For whom the bell tolls, demikian salah satu judul novel Ernest Hemingway. Bagi saya, kepada merekalah dan kepada begitu banyak orang yang merindukan adanya penyegaran, perubahan serta perbaikan hidup, saya ingin menawarkan sebuah harapan. My bell tolls for them.
Tetapi saya juga harus membaca dan menerima fakta-fakta. Dalam dunia politik, apalagi kalau sudah mulai mendapat panggung, kadang kita mulai gampang lupa diri, tak mudah untuk melihat cermin. Karena itulah, setelah mencoba beberapa bulan, saya menguji dan menilai apa yang telah saya lakukan dengan metode modern, yaitu dengan survei akademik. Saya memilih metode ini agar fakta-fakta yang sampai tidak hanya mencerminkan harapan saya semata, tetapi merefleksikan kenyataan yang sebenarnya.
Ternyata, dalam dua kali survei nasional (yang terakhir minggu lalu), dukungan yang saya peroleh belum cukup untuk mencapai momentum yang saya inginkan. Setelah saya mencoba selama lebih 3 bulan, jarak dukungan yang mampu saya dapatkan masih sangat jauh tertinggal ketimbang dukungan kepada dua tokoh senior di papan teratas, yaitu SBY dan Megawati. Sudah ada pergerakan naik memang, terutama dalam soal popularitas atau kedikenalan. Namun dalam soal elektabilitas, angkanya masih sangat jauh, sedemikian rupa sehingga jalan yang ada terlalu terjal bagi saya untuk mengejar ke posisi yang cukup serius. Ditambah dengan pembatasan baru dalam undang-undang, yaitu persyaratan perolehan dukungan 25% suara nasional atau 20% kursi di DPR dari partai pendukung untuk dapat menjadi capres, maka hampir semua pintu sudah tertutup.
Berhadapan dengan kenyataan demikian, saya harus mengambil sikap: jalan terus, against all odds, atau mundur dengan baik. Saya memilih yang kedua dan bersikap realistis. Tidak mudah, memang. Tapi itulah kenyataan yang harus saya hargai.
Karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin mengumumkan secara resmi bahwa mulai besok, 20 November 2008, segala upaya kampanye akan saya hentikan dan kegiatan di Sekertariat RM09 Center, Jalan Yusuf Adiwinata 29, Menteng, tidak lagi berhubungan dengan urusan kampanye menuju Pemilu 2009.
Saya ingin menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada keluarga dan sahabat-sahabat yang telah membantu serta memberi simpati kepada saya selama ini.
Hal yang sama juga ingin saya sampaikan kepada semua pihak, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, yang telah memberi dukungan terbuka terhadap kampanye saya. Saya mohon maaf bahwa kali ini harapan dan dukungan tersebut belum mampu saya emban dengan baik hingga tuntas. Mudah-mudahan, jika memang ada pintu yang terbuka, pada Pemilu 2014 saya akan mencoba lagi dan saya harap di saat itulah jalan cerita akan menjadi sedikit berbeda.
Sementara itu, saya akan kembali ke habitat saya lagi, menulis, memberi komentar, mengembangkan lembaga intelektual, dan semacamnya, untuk memberikan kontribusi yang positif. Dengan segala kelemahan dan kekurangan yang ada, saya akan terus berusaha menyumbangkan sesuatu agar Indonesia menjadi sebuah negeri yang lebih baik lagi, lebih toleran, lebih maju dan lebih sejahtera.
Kepada para senior saya, terutama yang berada di papan teratas seperti SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Sri Sultan HB X, Wiranto, Prabowo dan Amien Rais, saya ingin mengucapkan selamat. Kepada mereka, kalau boleh, saya ingin mengulang kembali apa yang pernah dikatakan oleh Theodore Roosevelt:
It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have them better.
The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is marred by dust, sweat and blood…who errs, who comes short and short again, because there is no effort without error and shortcoming; but who does actually strives to do the deeds… who at the best knows in the end the triumph of high achievement; and who at the worst, if he fails, at least fails while daring greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who neither know victory nor defeat.
Semoga para senior tersebut terus berjalan, mempertahankan integritas pribadi sambil senantiasa memperjuangkan cita-cita bagi sebuah negeri yang membanggakan kita semua.
Terimakasih.
Jakarta, 19 November 2008
Setelah membacanya, saya merasa optimisme saya meningkat. Bahwa masih ada orang-orang cerdas yang bertindak cerdas pula dan rasional dalam berpolitik. Tak bisa dipungkiri, pengunduran diri ini juga memancing spekulasi dan kecurigaan dari sebagian orang yang peduli dan merasa mengetahui ’siasat politik’. Apapun itu, saya tetap mengambil sisi positif dari apa yang dilakukan Rizal Mallarangeng tersebut.
Catatan di atas seakan membuka mata saya mengenai peta politik Indonesia yang mulai menunjukkan suasana baru dan lebih baik. Saya tahu ini masih merupakan proses awal yang masih berlanjut jauh ke depan. Tetapi setidaknya, saya mulai percaya bahwa ada harapan. Saya terinspirasi, oleh tokoh baru yang padanya saya tidak menaruh simpati sebelumnya.
Politikus, seperti halnya saya dan Anda sebagai manusia biasa, harus selalu bisa bercermin agar memahami apa, siapa, dan bagaimana diri kita seharusnya bertindak.
Maju terus Indonesia! Amiin.





Comments